Sahabatku yang semoga senantiasa dirahmati Allah tidaklah kita hidup didunia ini tanpa tujuan. Seseorang yang dalam hidupnya tanpa tujuan, dia hanya akan berputar-putar tanpa arah karena dia tidak tahu kemana tempat yang akan dituju.
Sebuah awal pastilah ada akhirannya. Sesuatu yang hidup pastinya akan mengalami kematian. Kemudian pada akhirnya kita akan sampai pada sebuah tempat akhir yaitu akhirat. Akhirat yang selalu kita harapkan mendapatkan kebahagian yang abadi. Semua mansaia saya kira sepakat bahwa tidaklah meraka beraktivitas, bekerja keras, melakukan sebuah tindakan kecuali mengingin suatu kebahagian. Maka segala aktivitas kita merupakan sebuah upaya agar bisa cepat mendapatkan kebahagian yang hakiki. Sahabatku maka perlu kita ketahuai bahwa sesungguhnya kebahgian yang hakiki, kebahagian yang tidak sanggup manusia menggambarkannya, hanya ada pada surge Allah. suatu tempat yang tida pernah dijumpai adanya kesedihan. Maka inilah sesungguhnya tempat tujuan kita,
Untuk sampai ke surge tentu ada jalan yang harus ditempuh. Seperti halnya dengan berpergian kesuatu tempat yang belum pernah kita kunjungi tentu kita membutuhkan peta yang akan mengarahkan agar bisa sampai ketempat itu. Maka untuk bisa sampai kesurga berarti membutuhkan peta dan peta itu tiadalah bukan ialah Al Qur’an yang Allah berikan sebagai petunjuk bagi manusia.
Hanya sekedar sampai itu tidaklah cukup karena kita butuh yang namanya percepatan. Untuk mendapatkan percepatan maka kita tidak hanya butuh sekedar tahu arahnya tetapi kita juga tahu karakteristik jalan yang akan dilalui. Seperti halnya kita berpergian kesuatu tempat yang baru, kalau hanya tahu arahnya saja tanpa tahu karakteristik jalan yang akan dilalui maka hal ini hanya akan memperlambat perjalanan. Ketidak tahuan karakteristik jalan yang akan dilalui akan menimbulkan rasa was-was, gelisah, dan bingung, perasaan ini yang sebenarnya akan memperlambat kecepatan perjalanan.
Seperti halnya juga dengan seorang pembalap motor untuk memaksimalkan kecepatan maka pengemudi harus tahu karakter lintasannya. Dia harus tahu lebar jalan, panjang lintasan lurus, sudut tikungannya dan lain sebagaunya, sehingga dia tahu bagaimana memaksimalkan kecepatan motornya.
Begitu pula dengan hidup. Kita butuh percepatan untuk mendapatkan kebahagiaan berupa surge dan bertemu dengan Allah. Untuk sampai disurga Allah maka tentu kita harus mati dulu, tetapi disini bukan mengajarkan untuk mati cepat, orang yang mati cepat atau umurnya pendek bukan berarti dia telah memastikan masuk surga duluan bukan?
Pada intinya dsinii bagaimana kita bisa cepat samapai pada tujuan kita yaitu kebahagian akhirat, untuk melakukan ini kita perlu mengetahuai karakteristik jalan menuju akhirat dan inilah beberapa karakter jalan hidup manusia menuju akhirat
Lurus
Jalan hidup yang lurus ada pada pikiran yang lurus. Pikiran lurus artinya tidak berpikir macem-macem atas peristiwa yang kita alami. Sesungguhnya segala sesuatu yang menimpa kita atas izin Allah dan Allah paling tahu apa yang terbaik untuk manusia. Maka sesungguh segala yang menimpa kita adalah yang terbaik untuk kita walaupun terkadang pahit untuk dirasakan. Kalaipun demikian pantaskah kita berburuk sangka kepada Allah?
Tak bercabang
Jalan hidup yang tak bercabang ada pada perasaan kita yang tertuju hanya untuk Allah. Perasaan kita tidak untuk makhluk yang lain tapi hanya tertuju kepda Allah semata. Cinta hanya untuk Allah dan mencinta hanya karena Allah.
sepi
Jalan hidup yang sepi ada pada niat yang tulus hanya karena Allah. Setiap aktivitas yang kita lakukan hanya dipersembahkan untuk Alllha semata. Karena hanya dipersembahkan kepada Allah maka tentu setiap aktivitas adalah aktivitas yang terbaik, yang pantas untuk dipersembahkan untuk Robb semesta alam.
Menanjak langit
Jalan yang menannjak langit ada pada memilih amal tersulit dari yang termudah. Setiap amal yang kita lakukan hendaklah memilih amalan-amalan yang tersulit dari yang termudah bukan sebaliknya. Miasalnya sedekah, seseorang sedekah sebesar seribu rupiah, jika untuk mengeluarkan uang seribu masih mudah maka ini bukan disebut jalan yang menanjak. Hendaklah terus dinaikkan jumlahnya sampai kita merasa berat untuk mengeluarkan uang tersebut. Ketika sudah sampai pada perasaan berat maka jumlah itulah yang dipilih untuk disedekahkan.
Sahabatku ini adalah nasihat pribadi bagaimana kita menginginkan cepat sampaii pada kebahagiaan akhirat, tetapi betapa tidak justru kita terkadang lebih suka menjauhi karakterkarakter yang ada pada jalan akhirat yang justru akan memperlambat perjalanan menuju kebahagiaan akhirat.





0 komentar:
Posting Komentar